Polemik GTC, Penyewa Dirugikan

oleh -62 views
Penutupan-GTC
Polemik antara PT Toba Sakti Utama (TSU) dan PT Prima Usaha Sarana (PUS) terkait pengelolaan Gunungsari Trade Center (GTC), dikhawatirkan merugikan para penyewa tenant. Foto: Khairul anwar/radar cirebon

KESAMBI – Polemik antara PT Toba Sakti Utama (TSU) dan PT Prima Usaha Sarana (PUS) terkait pengelolaan Gunungsari Trade Center (GTC), dikhawatirkan merugikan para penyewa tenant. Apalagi, sempat terjadi penggembokan kios, karena pembayaran uang sewa.

Direktur Utama Perumda Pasar Berintan Drs Sekhurohman meminta kepentingan penyewa tenant agar diperhatikan. Terutama menyangkut dengan renovasi. Mengingat mereka telah melakukan pembayaran uang sewa.

“Jangan sampai ada yang sudah membayar uang sewa tapi malah tidak bisa berjualan karena tempat usahanya tutup sementara,” ujar Sekhurohman, kepada Radar Cirebon, Rabu (16/12).

Perumda Pasar, kata dia, tidak mempersoalkan adanya renovasi oleh PT Toba Sakti Utama (TSU) yang mengaku sebagai pengelola gedung GTC. Justru hal itu sebenarnya baik. Asalkan tidak merubah konstruksi gedung secara keseluruhan.

Baca Juga: Muncul TPS Liar di Pesisir Panjunan

“Buat kita sih mangga saja kalau gedung itu diperbaiki. Kita sih untung. Kalau perlu lebih sering dilakukan. Jadi ketika gedung itu diserahkan lagi ke pemkot nanti ketika kontraknya berakhir, kondisinya bagus,” tuturnya.

Namun, dia berpesan agar perbaikan gedung tersebut tidak mengganggu aktivitas para pedagang pasar tradisional yang ada di area lantai dasar bagian belakang.

Terkait dengan vakumnya aktivitas niaga ketika pengelola gedung melakukan renovasi, Sekhurohman menilai hal tersebut bukan merupakan kerugian bagi Perumda Pasar. Justru yang rugi, ketika aktivitas niaga vakum dan penyewanya memilih tidak memperpanjang adalah pihak pengelola gedung itu sendiri.

Sementara itu, mantan Anggota DPRD Kota Cirebon, H Budi Gunawan meminta konflik pengelolaan GTC disudahi. Masing-masing pihak harus saling memahami. Terlebih kondisi yang ada saat ini di tengah pandemi covid-19. Sektor ekonomi paling terdampak.

“PT PSU untuk bisa bersikap bijak kepada tenant. Mereka saat ini terdampak pandemi dan omzetnya turun,” tuturnya.

Tidak hanya itu, BG juga mengingatkan PT TSU untuk bisa menjadi bapak yang bijak. Ketika penyegelan dilakukan, secara tidak langsung tenant terdampak.

BG juga memahami kondisi dilematis ini. Khususnya Perumda Pasar dengan kisruh internal GTC. Tapi dirinya mengapresiasi Perumda Pasar yang memberikan kelonggaran bagi manajemen untuk bisa menyelesaikan persoalan.

Hingga kemarin, pasca ditutupnya gedung utama GTC dan pintu masuk salah satu tenant, pihak Wika Tendean selaku Komisaris PT PUS belum bersedia memberikan tanggapan.

Saat dihubungi Radar Cirebon, kuasa hukum Wika Tendean, Fery Ramadhan mengatakan, belum ada tanggapan terkait hal tersebut dari kliennya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.